Contact Form

Name

Email *

Message *

Memilih Amal Shaleh Terbaik


Posted: 27 Mar 2017 02:43 AM PDT


Setiap orang memiliki potensi dalam beramal dan menghambakan diri kepada Allah. Imam Malik menjelaskan, Allah membagi jatah amal sebagaimana Dia membagi rezeki. Beberapa pelajaran berharga dari kisah dalam biografi imam besar ahli hadis generasi atba'ut tabi'in, imam Malik bin Anas al-Ashbuhi al-Madani.
Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Imam adz-Dzahabi menukil sebuah kisah dari biografi imam besar ahli hadis generasi atba'ut tabi'in, imam Malik bin Anas al-Ashbuhi al-Madani (wafat pada 179 H), Imam madzhab Maliki. Kisah tersebut sebagai berikut.
Seorang ahli ibadah tinggal di kota Madinah. 'Abdullah bin 'Umar bin Hafsh al-'Umari namanya. Beliau menulis surat berisi nasihat kepada imam Malik. Tujuannya memotivasi beliau agar lebih banyak menyendiri dan mengerjakan amal shaleh. Hal ini karena imam Malik setiap hari disibukkan oleh kegiatan menyampaikan dan meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para penuntut ilmu hadis yang datang ke Madinah.
Imam Malik menulis (surat balasan) kepada 'Abdullah bin 'Umar bin Hafsh al-'Umari. Isinya: "Sesungguhnya Allah telah membagikan amal-amal shaleh sebagaimana Dia membagikan rezekiNya untuk (manusia). Sehingga boleh jadi seseorang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) sholat (dengan rajin mengamalkan sholat-sholat sunnah), tapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) puasa. Sementara orang lain ada yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam bersedekah (dengan banyak berinfak di jalan Allah), tapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) puasa. Ada juga orang yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam berjihad (di jalan Allah, tapi tidak dibukakan pintu kebaikan baginya dalam ibadah lainnya). Maka (kegiatan) menyebarkan ilmu (hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) termasuk amal kebaikan yang paling utama. Dan sungguh aku telah ridha dengan (pintu kebaikan) yang telah dibukakan Allah untukku dalam menyebarkan ilmu (petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Aku tidak merasa amal yang aku lakukan ini (keutamaannya) di bawah amal yang Anda lakukan. Dan aku berharap (kepada Allah) agar kita berdua (selalu) di atas kebaikan dan ketaatan (kepada-Nya)". (Siyar A'laam an-Nubalaa', 8/115)
Kisah tersebut menggambarkan tingginya pemahaman agama para ulama masa silam. Mereka memahami keutamaan masing-masing amal shaleh, untuk kemudian mereka memilih amal yang paling utama di antaranya.
Jawaban imam Malik bukan berarti menolak nasihat untuk lebih giat beribadah kepada Allah. Tetapi hanya ingin menjelaskan bahwa kegiatan rutin yang ditekuninya, yaitu mengajarkan ilmu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk amal shaleh yang paling utama di sisi Allah. Hal ini karena dengan mengenal sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia dapat beribadah kepada Allah dengan benar sesuai dengan keridhaan-Nya.
Dalam hal ini imam Ibnul Mubarak berkata, "Aku tidak mengetahui adanya kedudukan yang lebih utama setelah kenabian, daripada menyebarkan ilmu (tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam )". (Tahdzibul Kamal, 16/20 dan Siyar A'laam an-Nubalaa‘, 8/387)
Imam Malik adalah imam panutan, bersifat mulia dan tekun beribadah kepada Allah. (Hilyatul Auliyaa', 6/316)
Beberapa Pelajaran Berharga
Dari kisah tersebut, beberapa pelajaran dapat kita petik.
Pertama, luasnya rahmat dan karunia Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, karena Dia  mensyariatkan banyak jalan kebaikan dan amal shaleh dalam Islam untuk mencapai keridhaan-Nya. Sehingga jika seorang hamba tidak mampu mengamalkan suatu amal shaleh tertentu, dia dapat melaksanakan amal shaleh lainnya yang sesuai dengan kemampuannya. Allah berfirman, yang artinya:
"Dengan kitab itulah (Al-Quran) Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (QS. al-Maaidah:16).
Kedua, amal-amal shaleh dalam Islam memiliki kedudukan dan keutamaan yang berbeda-beda. Maka orang yang diberi petunjuk untuk memahami agama Allah dapat menilai keutamaan masing-masing amal shaleh tersebut untuk kemudian memilih yang terbaik bagi dirinya.
Ketiga, yang diperhitungkan dan dinilai di sisi Allah pada amal perbuatan manusia adalah kualitas amal . Bukan sekadar kuantitasnya. Kualitas amal tergantung keikhlasan dalam hati dan kesesuaian amal tersebut secara lahir dengan praktek yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah makna firman Allah, yang artinya,
"Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. al-Mulk: 2)
Arti kalimat  amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas, karena Allah semata dan paling sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Tafsir al-Baghawi, hal. 175)
Keempat, kedudukan mulia di sisi Allah dicapai dengan melaksanakan seluruh kewajiban yang Allah perintahkan dalam Islam. Kemudian menyempurnakannya dengan amal-amal shaleh yang bersifat anjuran. Inilah cara meraih predikat wali (kekasih) Allah. Dalam hadis qudsi, Allah  berfirman,
"Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai daripada amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal shaleh yang dianjurkan (dalam Islam) sehingga Aku pun mencintainya."(HR. Bukhari No. 6137)***

Pull Quote:
  1. Para ulama memahami keutamaan masing-masing amal shaleh untuk kemudian memilih amal paling utama.
  2.  Ibnul Mubarak berkata, "Aku tidak mengetahui adanya kedudukan yang lebih utama setelah kenabian daripada menyebarkan ilmu.
  3. "Sesungguhnya Allah telah membagikan amal-amal shaleh sebagaimana Dia membagikan rezeki-Nya."
Boks: Amal Sholeh Sesuai Potensi
  1. Sesungguhnya Allah membagi amal kepada hamba-Nya sebagaimana Dia membagi rezeki.
  2. Masing-masing hamba memiliki potensi amal berbeda.
  3. Hendaknya masing-masing mengenali potensinya, kemudian memilih amal shaleh paling sesuai dengan potensinya itu.
  4. Amal yang sesuai dengan potensi seseorang akan membuatnya melakukannya dengan sungguh-sungguh.
  5. Penilaian amal berdasarkan kualitas, bukan kuantitasnya.
  6. Amal yang berkualitas ada dua syarat:
  7. Ikhlas, dan
  8. Sesuai petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Previous
Next Post »
0 Komentar