Contact Form

Name

Email *

Message *

Berhentilah Mengeluh

LowKer Sulawesi
Layakkah Kita mengeluh? Padahal Kita telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia.
Pantaskah Kita berkeluh kesah? Padahal Kita telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan Kita untuk membenahi segala sesuatunya.

Apakah Kita bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? Lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab Kita? Janganlah kekuatan yang ada pada diri Kita, terjungkal karena Kita berkeluh kesah.
Ayo tegarkan hati, tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena Kita tidak tahu jawaban dari masalah Kita tersebut.

Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan Kita. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak Kita. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru.

Sediakan beberapa menit setiap hari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan Kita tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka Kita akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran Kita yang bening. Selama berhari-hari Kita disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran Kita memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Kita perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batin.

Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat Kita mengaduk semakin kencang pusaran. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan Kita mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini Kita mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran Kita yang bening.

Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding Kita. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani daripada mereka sesali. Jika demikian masihkan Kita lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup ini?
Previous
Next Post »
0 Komentar