Contact Form

Name

Email *

Message *

Newsletter Pengusaha Muslim Indonesia

Add Comment

Newsletter Pengusaha Muslim Indonesia


Memilih Amal Shaleh Terbaik

Posted: 27 Mar 2017 02:43 AM PDT

Memilih Amal Shaleh Terbaik

Setiap orang memiliki potensi dalam beramal dan menghambakan diri kepada Allah. Imam Malik menjelaskan, Allah membagi jatah amal sebagaimana Dia membagi rezeki. Beberapa pelajaran berharga dari kisah dalam biografi imam besar ahli hadis generasi atba'ut tabi'in, imam Malik bin Anas al-Ashbuhi al-Madani.

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Imam adz-Dzahabi menukil sebuah kisah dari biografi imam besar ahli hadis generasi atba'ut tabi'in, imam Malik bin Anas al-Ashbuhi al-Madani (wafat pada 179 H), Imam madzhab Maliki. Kisah tersebut sebagai berikut.

Seorang ahli ibadah tinggal di kota Madinah. 'Abdullah bin 'Umar bin Hafsh al-'Umari namanya. Beliau menulis surat berisi nasihat kepada imam Malik. Tujuannya memotivasi beliau agar lebih banyak menyendiri dan mengerjakan amal shaleh. Hal ini karena imam Malik setiap hari disibukkan oleh kegiatan menyampaikan dan meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para penuntut ilmu hadis yang datang ke Madinah.

Imam Malik menulis (surat balasan) kepada 'Abdullah bin 'Umar bin Hafsh al-'Umari. Isinya: "Sesungguhnya Allah telah membagikan amal-amal shaleh sebagaimana Dia membagikan rezekiNya untuk (manusia). Sehingga boleh jadi seseorang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) sholat (dengan rajin mengamalkan sholat-sholat sunnah), tapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) puasa. Sementara orang lain ada yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam bersedekah (dengan banyak berinfak di jalan Allah), tapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) puasa. Ada juga orang yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam berjihad (di jalan Allah, tapi tidak dibukakan pintu kebaikan baginya dalam ibadah lainnya). Maka (kegiatan) menyebarkan ilmu (hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) termasuk amal kebaikan yang paling utama. Dan sungguh aku telah ridha dengan (pintu kebaikan) yang telah dibukakan Allah untukku dalam menyebarkan ilmu (petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Aku tidak merasa amal yang aku lakukan ini (keutamaannya) di bawah amal yang Anda lakukan. Dan aku berharap (kepada Allah) agar kita berdua (selalu) di atas kebaikan dan ketaatan (kepada-Nya)". (Siyar A'laam an-Nubalaa', 8/115)

Kisah tersebut menggambarkan tingginya pemahaman agama para ulama masa silam. Mereka memahami keutamaan masing-masing amal shaleh, untuk kemudian mereka memilih amal yang paling utama di antaranya.

Jawaban imam Malik bukan berarti menolak nasihat untuk lebih giat beribadah kepada Allah. Tetapi hanya ingin menjelaskan bahwa kegiatan rutin yang ditekuninya, yaitu mengajarkan ilmu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk amal shaleh yang paling utama di sisi Allah. Hal ini karena dengan mengenal sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia dapat beribadah kepada Allah dengan benar sesuai dengan keridhaan-Nya.

Dalam hal ini imam Ibnul Mubarak berkata, "Aku tidak mengetahui adanya kedudukan yang lebih utama setelah kenabian, daripada menyebarkan ilmu (tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam )". (Tahdzibul Kamal, 16/20 dan Siyar A'laam an-Nubalaa‘, 8/387)

Imam Malik adalah imam panutan, bersifat mulia dan tekun beribadah kepada Allah. (Hilyatul Auliyaa', 6/316)

Beberapa Pelajaran Berharga

Dari kisah tersebut, beberapa pelajaran dapat kita petik.

Pertama, luasnya rahmat dan karunia Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, karena Dia  mensyariatkan banyak jalan kebaikan dan amal shaleh dalam Islam untuk mencapai keridhaan-Nya. Sehingga jika seorang hamba tidak mampu mengamalkan suatu amal shaleh tertentu, dia dapat melaksanakan amal shaleh lainnya yang sesuai dengan kemampuannya. Allah berfirman, yang artinya:

"Dengan kitab itulah (Al-Quran) Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (QS. al-Maaidah:16).

Kedua, amal-amal shaleh dalam Islam memiliki kedudukan dan keutamaan yang berbeda-beda. Maka orang yang diberi petunjuk untuk memahami agama Allah dapat menilai keutamaan masing-masing amal shaleh tersebut untuk kemudian memilih yang terbaik bagi dirinya.

Ketiga, yang diperhitungkan dan dinilai di sisi Allah pada amal perbuatan manusia adalah kualitas amal . Bukan sekadar kuantitasnya. Kualitas amal tergantung keikhlasan dalam hati dan kesesuaian amal tersebut secara lahir dengan praktek yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah makna firman Allah, yang artinya,

"Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. al-Mulk: 2)

Arti kalimat  amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas, karena Allah semata dan paling sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Tafsir al-Baghawi, hal. 175)

Keempat, kedudukan mulia di sisi Allah dicapai dengan melaksanakan seluruh kewajiban yang Allah perintahkan dalam Islam. Kemudian menyempurnakannya dengan amal-amal shaleh yang bersifat anjuran. Inilah cara meraih predikat wali (kekasih) Allah. Dalam hadis qudsi, Allah  berfirman,

"Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai daripada amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal shaleh yang dianjurkan (dalam Islam) sehingga Aku pun mencintainya."(HR. Bukhari No. 6137)***

 

Pull Quote:

  1. Para ulama memahami keutamaan masing-masing amal shaleh untuk kemudian memilih amal paling utama.
  2.  Ibnul Mubarak berkata, "Aku tidak mengetahui adanya kedudukan yang lebih utama setelah kenabian daripada menyebarkan ilmu.
  3. "Sesungguhnya Allah telah membagikan amal-amal shaleh sebagaimana Dia membagikan rezeki-Nya."

Boks: Amal Sholeh Sesuai Potensi

  1. Sesungguhnya Allah membagi amal kepada hamba-Nya sebagaimana Dia membagi rezeki.
  2. Masing-masing hamba memiliki potensi amal berbeda.
  3. Hendaknya masing-masing mengenali potensinya, kemudian memilih amal shaleh paling sesuai dengan potensinya itu.
  4. Amal yang sesuai dengan potensi seseorang akan membuatnya melakukannya dengan sungguh-sungguh.
  5. Penilaian amal berdasarkan kualitas, bukan kuantitasnya.
  6. Amal yang berkualitas ada dua syarat:
  7. Ikhlas, dan
  8. Sesuai petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Gengsi… Tapi Sangat Terpuji

Add Comment
Ditulis oleh Ustadz Sufyan Baswedan, MA
Sikap gengsi tidak selamanya tercela. Ada gengsi yang tercela, namun ada juga yang terpuji. Gengsi dalam menerima kebenaran sangatlah tercela, namun gengsi dalam meminta hajat kepada manusia, amatlah terpuji. Berikut ini sebagian kecil dari gengsi yang terpuji ala salafus shalih.
Hakiem bin Hizam bin Khuwailid Al-Asadi
Beliau adalah keponakan Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Rasulullah. Beliau masuk Islam menjelang penaklukan kota Mekkah (th 8 H). Rasulullah pernah memberinya 100 ekor unta dari ghanimah yang beliau dapatkan usai perang Hunain. Beliau konon 12 tahun lebih tua dari Rasulullah, dan baru wafat 44 tahun sepeninggal Rasulullah.
Urwah bin Zubeir dan Sa'id bin Musayyib meriwayatkan, bahwa Hakiem bin Hizam radiyallahu 'anhu mengatakan, "Aku pernah meminta uang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau memberiku. Kemudian aku minta uang lagi, dan beliau kembali memberiku. Untuk ketiga kalinya, aku minta uang lagi, dan beliau memberi lagi. Kemudian beliau bersabda, "Hai Hakiem, harta memanglah indah dan manis. Barangsiapa mengambilnya tanpa meminta berulang kali dan tanpa rasa tamak, ia akan mendapatkan berkahnya. Namun barangsiapa mengambilnya dengan penuh ambisi dan rasa tamak, maka tidak akan mendapat berkahnya. Ibarat orang yang makan namun tidak kenyang-kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik dari pada yang di bawah". Lanjut Rasulullah.
"Wahai Rasulullah, demi Yang mengutusmu dengan kebenaran, aku takkan meminta sesuatu kepada siapa pun setelahmu, sampai aku berpisah dengan dunia" kata Hakiem.
Hari-hari pun berlalu… Rasulullah telah tiada dan kekhalifahan beralih ke tangan Abu Bakar. Sebagai kepala negara, kesejahteraan rakyat adalah perhatian utamanya. Khalifah yang adil dan zuhud ini pun memanggil satu-persatu sahabat Rasulullah yang masih hidup, lalu memberi mereka santunan dari baitul mal.
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu memanggil Hakiem agar menerima bagiannya dari baitul mal, namun Hakiem menolaknya. Dua tahun dari kekhalifahan Abu Bakar pun berlalu, dan kini Umar bin Khatthab yang menjabat sebagai Amirul Mukminin. Sebagai penerus Abu Bakar, Umar juga memerhatikan kesejahteraan para sahabat, termasuk Hakiem bin Hizam.
Umar pun memanggil Hakiem untuk menerima santunan, namun Hakiem tetap saja tak mau mengambil seepeser pun. Maka Umar berkata kepada para sahabatnya, "Saksikanlah oleh kalian wahai kaum muslimin, bahwa aku telah menyerahkan bagiannya dari baitul mal, namun ia tak mau mengambilnya".
Demikianlah sikap Hakiem bin Hizam radhiyallahu 'anhu yang tetap 'gengsi' untuk meminta sesuatu kepada siapa pun sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sampai beliau wafat, radhiyallaahu 'anhu .[1]
Berbaiat Untuk Gengsi
Mungkin Anda heran membaca judul di atas… saya pun demikian. Akan tetapi hadits berikut benar-benar menunjukkan bahwa 'gengsi' seperti ini adalah amal shalih yang sangat besar pahalanya… namun juga sangat jarang diamalkan, bahkan direnungkan. Jangankan oleh para santri dan thullabul 'ilmi, alim ulama dan kyai saja nyaris tak ada yang mengamalkannya…
Sahabat 'Auf bin Malik Al Asyja'iy radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Kami pernah berkumpul dengan Rasulullah, antara tujuh hingga sembilan orang. Ketika itu, kami baru saja membaiat beliau, namun beliau berkata, "Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?"
"Kami telah berbaiat kepadamu, wahai Rasulullah" sahut kami.
"Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?" tanya beliau lagi.
"Kami telah membaiatmu wahai Rasulullah !" sahut kami lagi.
"Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?" tanya beliau lagi.
Maka kami ulurkan tangan kami seraya berkata, "Kami telah membaiatmu wahai Rasulullah… lalu dalam rangka apa kami harus berbaiat lagi?"
"Berbaiatlah dalam rangka mengabdi kepada Allah tanpa menyekutukan sesuatupun denganNya, dalam rangka menegakkan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, dan -sembari melirihkan suaranya- jangan meminta sesuatupun kepada manusia" lanjut Rasulullah.
Alangkah beratnya baiat ini…
Tak meminta sesuatu pun kepada manusia… mana mungkin? Ini hampir mustahil untuk bisa diwujudkan. Namun tidak ada yang mustahil bagi para sahabat bila Allah yang memberi taufik. Bukan hanya 'gengsi' meminta harta, bahkan minta tolong dalam hal yang 'sepele' pun mereka hindari, selagi mereka mampu melakukannya sendiri…
Auf bin Malik melanjutkan, "Sungguh, aku pernah menyaksikan salah satu dari mereka -yang berbaiat tadi- saat cemetinya terjatuh, dan ia berada di atas tunggangannya. Ia tidak minta tolong kepada seorang pun agar mengambilkan cemeti tadi untuknya".[2]
Jadi, pantaslah jika pahala amal shalih mereka yang kelihatan 'tak seberapa', dilipat-gandakan luar biasa oleh Allah Ta'ala.
Pantaslah jika sedekah mereka yang hanya segenggam atau setengahnya, lebih besar pahalanya dari sedekah kita yang sebesar gunung Uhud… karena mereka jauh lebih teguh dalam mewujudkan konsekuensi dari iyyaaka na'budu, wa iyyaaka nasta'ien… Hanya kepadaMu kami mengabdi, dan hanya kepadaMu kami minta tolong. Inilah rahasia kehebatan amal mereka… sedangkan kita hanya pandai mengulang-ulangnya 17 kali setiap hari, tanpa memahami konsekuensinya, apalagi mengamalkan… nastaghfirullaaha wa natuubu ilaihi.
Lantas bagaimana dengan para tabi'in? Simaklah kisah berikut yang sekaligus menutup artikel yang mudah ditulis, namun sangat berat untuk diamalkan ini…
Dalam kitab Al-Mujalasah, Ad-Dinawari meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyan bin 'Uyainah, bahwa Khalifah Hisyam bin Abdil Malik pernah masuk ke Ka'bah. Tiba-tiba, beliau mendapati Salim bin Abdillah bin Umar[3] dalam Ka'bah.
"Hai Salim, sampaikan keinginanmu kepadaku", kata Hisyam.
"Aku malu kepada Allah untuk meminta di rumah-Nya kepada selain-Nya", jawab Salim.
Tak lama berselang, Salim pun keluar dari Ka'bah, dan Hisyam kembali membuntutinya sambil mengingatkan,
"Nah, sekarang kamu sudah keluar, maka mintalah kebutuhanmu kepadaku" kata Hisyam.
"Hajat duniawi atau hajat ukhrawi?" tanya Salim.
"Hajat duniawi tentunya" jawab Hisyam.
"Sungguh demi Allah, aku tidak pernah meminta dunia kepada yang menguasainya (Allah), lantas bagaimana aku hendak meminta kepada yang tidak menguasainya?" jawab Salim.[4]
Subhaanallaah… tawaran manis dari penguasa negara dengan mudah ditolaknya. Padahal, kalaupun Salim menyebutkan hajat duniawinya, toh itu juga karena perintah Khalifah… dan bukan beliau yang memulai. Akan tetapi, itulah gengsi ala para ulama masa silam (salafus shalih) yang sangat terpuji. Sesuai dengan konsekuensi tauhid yang mereka ulang setiap hari…
Mampukah kita meneladani mereka?
Semoga…
Keterangan:
  • [1] Inti kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no 1472) dan Muslim (no 1035) dalam As Shahihain. Hakiem bin Hizam baru wafat pada tahun 54 H. Artinya, beliau sama sekali tidak mau menerima santunan baik dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, maupun Mu'awiyah radhiyallahu 'anhum. Padahal umur beliau sepeninggal Rasulullah telah melebihi 75 tahun, dan baru wafat pada usia sekitar 120 tahun !!
  • [2] HR. Muslim dalam Shahihnya (no 1043). Perlu dicatat, bahwa untuk mengambil cemeti yang jatuh, ia harus turun dari tunggangannya lalu melompat dan naik lagi. Ini jelas lebih merepotkan daripada sekedar 'minta tolong' diambilkan, akan tetapi…
  • [3] Beliau adalah putera dari sahabat Ibnu Umar yang paling mirip dengan ayahnya, sedangkan Ibnu Umar adalah putera Umar bin Khatthab yang paling mirip dengan ayahnya. Salim termasuk satu dari 7 fuqoha' kota Madinah di zamannya, yang terkenal dengan keilmuan, ketaqwaan, dan sikap zuhudnya. Beliau wafat pada tahun 106 atau 107 H.
  • [4] Al Mujalasah wa Jawahirul 'Ilm, oleh Ahmad bin Mirwan Ad Dinawari (no 80). Dengan sanad yang shahih.

Hukuman yang Tepat bagi Korupsi

Add Comment
Dalam Islam, korupsi berbeda dengan mencuri. Karena itu bentuk hukumannya pun tidak sama. Koruptor wajib mengembalikan seluruh harta yang telah dikorupnya. Dosa korupsi termasuk kezaliman kepada makhluk. Tanggung jawab taubatnya lebih berat. Ditulis oleh ustadz DR. Erwandi Tarmizi, MA
(Artikel beliau pernah dimuat di Majalah Cetak Pengusaha Muslim Indonesia, Edisi Mei 2012)
Korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan, dsb.) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.[i] Dari definisi ini, maka harta yang diselewengkan seorang koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik banyak orang (rakyat atau negara).
Dalam tinjaun fikih, seorang pegawai perusahaan atau instansi pemerintahan, ketika dipilih mengemban tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan tugas sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena beban amanah dia mendapat imbalan (gaji). Jika ia menyelewengkan harta yang diamanahkan kepadanya, dan ia menggunakannya bukan untuk yang telah diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan untuk kemaslahatan yang telah diatur, dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.
Dalam kasus tidak amanah terhadap harta orang lain, pengkhianatan terhadap harta sekolompok orang lebih besar akibatnya daripada berkhianat terhadap harta individu. Dan lebih besar lagi konsekuensinya jika yang dikhianati adalah harta milik banyak orang (harta negara). Dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara bisa disebut ghulul, sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi.[ii]
Dalam buku Raudhatun Na’im disebutkan, perbuatan yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta umat Islam (harta negara)[iii] berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Musyaddad, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara)."
Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan, sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri.” (HR. Abu Daud. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani)
Ibnu Hajar Al Haitami (wafat 974 H) berkata, “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal (kas negara) dan zakat termasuk ghulul. [iv]
Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh Komite Fatwa Kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450: “Ghulul yaitu mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang … dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal (uang negara) dengan cara berkhianat (korupsi).”[v] Ini juga hasil tarjih Dr. Hanan Malikah dalam pembahasan Takyiif fiqhiy (kajian fikih untuk menentukan bentuk kasus) tentang korupsi.[vi]
Hukum Potong Tangan untuk Koruptor
Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? Bila ya, bolehkah dijatuhi hukuman potong tangan? Demikian pertanyaan mendasar yang patut kita jawab.
Allah berfirman, yang artinya, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Maidah: 38).
Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan batas maksimal harga barang yang dicuri, tempat barang dicuri dan sebagainya. Akan tetapi kemutlakan ayat tersebut ditaqyid (diberi batasan) oleh hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu para ulama mensyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya, barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan, seperti brankas/lemari yang kuat dalam kamar tidur untuk barang berharga semisal emas, perhiasan, uang, surat berharga dan lainnya, dan seperti garasi untuk mobil. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak boleh memotong tangan pencuri.
Hal tersebut berdasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki suku Muzainah tentang hukuman bagi pencuri buah kurma: “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisai yaitu 1/4 dinar (± 1,07 gram emas).[vii] (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan). Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan, bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.
Persyaratan tersebut tidak terpenuhi untuk kasus korupsi. Ini karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.
Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah koruptor mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan, karena dia dititipi amanah uang/barang oleh negara. Sementara orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dihukum potong tangan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya.”(HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani)
Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri suatu hal yang sangat tidak mungkin. Hal ini karena pencuri dapat mengambil harta orang lain yang dijaga dengan perangkat keamanan apa pun. Maka tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya hanya dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya, karena tangannya, alat utama untuk mencuri, telah dipotong. Sedangkan orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Sehingga merupakan suatu kecerobohan ketika seseorang memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang tidak ketahui kejujurannya.[viii]
Untuk itu, kejahatan koruptor sesungguhnya bukan saja kejahatan dia sendiri, tetapi juga kejahatan orang yang mengangkat serta mempercayakan jabatan penting kepadanya. Ini bukan berarti seorang koruptor terbebas dari hukuman apa pun. Seorang koruptor tetap layak dihukum. Di antara hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor adalah sebagai berikut:
Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis ia gunakan. Negara berhak menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi utangnya, selamanya.
Ketentuan tersebut berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya.” (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, sanad hadis ini hasan)
Kedua, hukuman ta’zir. Yakni hukuman yang tidak ditentukan oleh Allah karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. [ix]
Sedangkan hudud hukuman untuk suatu kasus yang telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. Mulai jenis hukuman serta persyaratannnya. Seperti rajam bagi pezina yang telah menikah atau 100 kali cambuk untuk pezina yang belum menikah, 80 kali cambuk untuk orang yang menuduh orang lain berzina, 40 kali cambuk untuk orang minum khamar, potong tangan bagi pencuri, qisash (nyawa dibayar nyawa) bagi orang yang membunuh jiwa, hukuman pancung bagi orang yang murtad dan orang yang memberontak terhadap pemimpin yang bertakwa. Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.
Jenis hukuman ta’zir bagi koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril dan sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.
Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.
Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan. Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat." (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah). Hukuman ta’zir diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).
Selain sanksi di atas, berbagai jenis hukuman lainnya yang dianggap memiliki dampak jera bagi para pelaku korupsi boleh diterapkan, seperti dipecat, bagi koruptor harta negara dalam jumlah kecil atau diumumkan di media massa.

Bertaubat dari Dosa Korupsi

Seseorang yang telanjur melakukan dosa korupsi hendaklah bertaubat sesegera mungkin. Korupsi adalah dosa yang dilakukan seorang hamba kepada Allah berhubungan dengan hak anak Adam. Ada empat syarat kesempurnaan taubat terkait dengan hak sesama anak adam. Yaitu:
  1. Orang yang bertaubat harus berhenti meninggalkan dosa saat itu juga.
  2. Ia harus menyesali perbuatannya.
  3. Ia harus bertekad tidak mengulangi lagi selama-lamanya.
  4. Ia wajib mengembalikan harta yang dikorupsinya kepada pemiliknya (negara).
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tangan yang mengambil barang orang dengan cara yang tidak diridhainya wajib menanggung barang tersebut hingga dikembalikan kepada pemiliknya." (HR. Ahmad. Menurut Al-Arnauth bahwa derajat hadis ini hasan lighairihi).
Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang menzalimi kehormatan atau harta saudaranya maka hendaklah di hari ini ia minta saudaranya merelakan hal tersebut, sebelum datang suatu hari yang tidak ada dinar dan dirham. Jika ia mempunyai amal salih maka diambil amalan tersebut seukuran kezalimannya. Dan jika ia tidak mempunyai kebaikan diambil dosa-dosa orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Dan Islam tidak mengenal pencucian uang yang menyebabkan uang setelah "dicuci" menjadi bersih. Meskipun itu dilakukan sebagai bentuk pengelabuan jejak tipikornya. Selama dia terbukti korupsi, uang yang dikorupsi wajib dikembalikan seluruhnya dan diserahkan kepada pemiliknya (negara). (PM)
PullQuote:
  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara)."
  2. Abu Bakar Radhiallahuanhu: “Aku diberitahu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri.

Kesimpulan Antara Mencuri dan Korupsi

  1. Pegawai perusahaan atau instansi pemerintah statusnya orang yang diberi amanah.
  2. Pengkhianatan terhadap harta masyarakat lebih besar akibatnya daripada pengkhianatan terhadap harta milik pribadi.
  3. Pengkhianatan terhadap harta yang diamanahkan disebut ghulul. Ghulul termasuk di dalamnya tindak pidana korupsi terhadap uang negara.
  4. Syarat hukuman potong tangan untuk pencuri antara lain:
    • Harus mencapai nilai minimal 1/4 dinar (1,07 gram emas).
    • Harta yang diambil berada dalam hirz (penjagaan yang layak dari pemilik).
  5. Korupsi harta negara atau perusahaan (ghulul) termasuk tindak pencurian yang tidak memenuhi syarat potong tangan. Karena pelaku mengambil harta yang ada di daerah kekuasannya melalui jabatannya. Sehingga harta itu bukan harta yang berada di bawah hirz (penjagaan pemilik).
  6. Hukuman untuk pelaku kriminal ada dua:
    • Hukuman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat (hudud).
    • Hukuman yang tidak ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, dan dikembalikan kepada keputusan hakim (ta’zir).
  7. Hukuman yang diberikan untuk koruptor adalah:
    • Dipaksa mengembalikan semua harta yang telah dikorupsi.
    • Hukuman ta’zir, yang bisa berupa denda, atau fisik seperti cambuk, atau dipermalukan di depan umum, atau penjara. Semuanya dikembalikan kepada keputusan hakim.
  8. Dosa korupsi termasuk kezaliman kepada makhluk, sehingga tanggung jawab taubatnya lebih berat.

Footnote:

[i] Hal 462.
[ii] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, jilid XXXI, hal 272.
[iii] Gabungan para pakar yang diketuai oleh Dr. Shalih bin Humaid (imam Masjidil Haram), NadhratunNa’im fi makarimi akhlaq Ar Rasul al karim, jilid XI, hal 5131.
[iv] Az Zawajir an iqtirafil kabair, jilid II, hal 293.
[v]  Fataawa lajnah daimah, jilid XII, hal 36.
[vi] Jaraimul fasad fil fiqhil Islami, hal 99.
[vii] Batas minimal barang yang dicuri seharga 1/4 dinar berdasarkan sabda Nabi, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri, melainkan barang yang dicuri seharga 1/4 dinar hingga seterusnya. (HR. Muslim).
[viii] Ibnu Qayyim,  I’lamul muwaqqi’in, jilid II, hal 80.
[ix] Almausuah alfiqhiyyah al kuwaitiyyah,  jilid XII, hal 276.

Enam Tahap Memulai Bisnis Toko Online dari Rumah

Add Comment
Tahap Memulai Bisnis Toko Online dari Rumah
Bisnis toko online bisa menjadi alternatif sumber pendapatan baru yang dikerjakan dari rumah. Berikut prinsip-prinsip dan tahapan-tahapan membangun bisnis jual-beli memanfaatkan Internet.
(Artikel ini pernah terbit di Majalah Pengusaha Muslim Edisi Mesi 2012)
Ipan Pranashakti
Kenaikan harga barang dan jasa sebaiknya disikapi dengan baik dan elegan. Malah kalau bisa menjadi sumber kreativitas baru untuk menciptakan sumber pendapatan lain. Misalnya, dengan memulai usaha toko online, karena bisa dilakukan di rumah tanpa harus meninggalkan aktivitas rutin. Media online saat ini membuka banyak peluang. Bisnis yang dilakukan di rumah tidak berarti ketinggalan dan  tidak diukur apakah usaha rumahan atau pabrikasi.
Jika berminat, pahami prinsip dasarnya yang terdiri atas lima hal. Yakni:
Pertama, ada kejelasan akad dengan suplayer, baik produsen atau agen produk, berupa pernjanjian tertulis maupun lisan.
Kedua, ada barang yang jelas, termasuk informasi ada-tidaknya garansi. Kelengkapan informasi produk hendaknya sampai seri, spesifikasi, bahan, dan lainnya.
Ketiga, mengutamakan aspek online-nya dulu, baru menginjak ke usaha rumahan, untuk minimalkan kunjungan pembeli ke rumah, terutama dari luar kota. Tapi konsekuensinya harus disediakan sarana komunikasi yang beragam: e-mail, SMS, kontak langsung melalui hanphone atau fixed telephone, formulir online , Yahoo Mesengger, bila perlu sampai Black Berry Messengger.
Keempat,  jika melibatkan pihak ketiga dalam pengiriman barang seperti pos atau jasa pengiriman swasta perlu diperjelas standar waktu sampai ke masalah risiko pengiriman secara tertulis dalam web, e-mail. Maupun bila dilakukan secara lisan, karena intinya ada kejelasan keterlibatan pihak ketiga.
Kelima, gunakan shopping cart dalam web online sehingga bisa menghitung secara otomatis jumlah produk yang dibeli dan nilainya, sementara kita sebagai pemilik toko online tinggal menerima e-mail berisi informasi pemesanan barang dari perangkat otomatis itu, agar tidak terjadi selisih-paham.

Enam Tahap

Pahami dulu lima prinsip tersebut barulah melangkah ke tahapan-tahapan berikutnya. Ada enam tahap, dijelaskan berikut ini.
Pertama, rencanakan dengan melibatkan produk yang benar-benar unik. Amatilah secara online dengan Google Search setidaknya 10 hari. Termasuk persaingannya. Pantau taktik yang akan dipakai calon pesaing kita dalam kurun waktu tertentu, agar kita dapat menentukan taktik yang berbeda, lebih inovatif tapi dapat diterima pasar.
Kedua, tentukan pilihan jumlah modalnya. Jika masih dibawah Rp 1 juta, sebaiknya sewa saja toko online dengan model instan. Pilih yang sewanya terjangkau, karakter web cocok dengan jasa atau yang akan kita jual – kalau bisa unik tapi berkarakter. Setelah toko online tersedia, lihat fitur-fiturnya untuk memantik kreativitas pengembangan. Setidaknya memahami apa saja yang sudah bisa difasilitasi dan apa saja yang belum tersedia. Maksunya adalah untuk menentukan inovasi layanan berikutnya.
Ketiga, gunakan manajemen konten berdasar kategori produk karena ini cara ampuh untuk menyesuaian selera pasar dan tren. Termasuk agar produk menduduki posisi atas dengan tampilan bergerak bergantian dengan produk lain – istilah teknisnya: slide show. Jangan lupa, masyarakat Indonesia mudah disentuh melalui insentif, misalnya diskon, bebas biaya kirim, beli 1 dapat 2. Intinya, upaya ini untuk meningkatkan perhatian media online. Pada dasarnya keunggulan bukan pada diskona, tetapi karena mindset pasar kadang malas membeli secara online – karena selalu ada biaya kirim yang tinggi dan belum tentu sesuai, sehingga insentif akan mendorong perkenalan dan mencoba layanan kita.
Keempat, manfaatkan internet marketing. Ini salah satu strategi untuk meningkatkan kepecarcayaan layananan online. Keunggulan internet marketing antara lain kecepatan distribusi informasi, terutama pada produk atau program baru. Berbeda dengan marketing offline, ada produk baru dulu baru memesan ke desainer, kemudian desainnya dicetak dalam katalog, sehingga membutuhkan waktu distribusi. Sedangkan toko online, ketika produk sudah jadi, menit itu juga sudah harus ada informasi yang disebar ke banyak pihak. Terutama yang memanfaatkan social media. Tapi hendaknya tetap diperhatikan setiap metode distribusi ada taktiknya tersendiri. Jika ingin mengoptimalkan upaya melalui social media, pahami dua prinsip dasarya: member development (menjalin pertemanan online dengan calon konsumen berkualitas), dan conten development (mengisi hubungan bermutu, indah dan memotivasi pelanggan). Kedua prinsip ini dapat menghindari tag-tag percuma dari pengunjung yang bukan segmen pasar kita. Alih-alih membuat web online nyaman, yang terjadi malah merusak kenyamanan pelanggan. Cara lainnya melalui SEO, e-mail marketing, SMS marketing, content marketing dan blog marketing.
Kelima, lakukan evaluasi bulanan. Ini mirip perawatan toko fisik – membersihkan dan merapikan toko dan rukonya. Evaluasi akan menyadarkan adanya taktik berkelanjutan ke bulan berikutnya. Evaluasi memerlukan data. Bisa melalui polling  online, survai pelanggan melalui e-mail, SMS atau sampel dalam pertemuan tatap muka. Bisa juga dengan mengamati pergerakan pesaing, menjalin pertemanan di Facebook dan Twitter. Evaluasi juga harus dilalukan dua arah – internal dan ekternal.
Keenam, lengkapi aspek keimanan, dengan rajin beribadah dan bersedekah, menghormati orangtua, berbagi ilmu dan tips secara ikhlas, membantu pengusaha Muslin lain dan diakhiri meluruskan mindset: fokus ke tujuan akherat dan biarlah urusan dunia, termasuk sukses toko online, Allah-lah yang mengatur dan memberikan kemudahannya. Namun ingat, Anda tidak boleh beridabadah karena dorongan ingin sukses di dunia. Ikhlaskan ibadah Anda untuk Allah, kemudian berdoalah agar Allah memudahkan urusan Anda.

Resume: Lima Prinsip, Enam Tahapan

Lima Prinsip:
  1. Kejelasan kad dengan suplayer secara tertulis atau lisan.
  2. Barang yang jelas, termasuk ada-tidaknya garansi dan spesifikasinya.
  3. Online dulu, baru ke usaha rumahan.
  4. Jika melibatkan pihak ketiga dalam pengiriman barang, perjelas standar waktu dan risiko pengiriman, dan tertulis dalam web, e-mail, atau secara lisan
  5. Gunakan shopping cart dalam web online agar tercatat otomatis.
Enam Tahapan:
  1. Produk unik berkarakter dan taktik lebih inovatif daripada pesaing tapi tetap dapat diterima pasar.
  2. Tentukan pilihan jumlah modalnya.
  3. Gunakan manajemen konten berdasar kategori produk.
  4. Manfaatkan internet marketing.
  5. Lakukan evaluasi bulanan.
  6. Lengkapi dengan aspek keimanan

Fitur Baru Update Status WhatsApp

Add Comment
Oleh: Joe
Belum lama whatsapp memanjakan penggunanya dengan fitur video/voice call, baru-baru ini whatsapp meluncurkan fitur seperti Snapchat Story. Aplikasi yang sudah dibeli facebook sekarang bisa update status.
Yap, kita bisa membagikan status berupa foto, video dan animasi GIF. Pembaharuan status akan hilang setelah 24 jam. Disamping itu, status kita bisa dilihat oleh orang-orang yang masuk dalam daftar kontak yang tersimpan dalam handphone kita.
Bagaimana cara update status baru di whatsapp?
pembahuruan whatsapp
Langsung saja Anda kunjungi layar status whatsapp, lalu  klik icon bergambar seperti ini : 

Kemudian muncul layar seperti diatas, dari sini Anda bisa mengambil gambar atau video yang tersimpan di internal memori handphone. Atau Anda bisa menfoto dan merekam video secara langsung.
Setelah itu  ketuk tombol kirim: 
Sebelum pencet tombol kirim, jangan lupa menambahkan keterangan status, memberi emotion, crop gambar, memberi teks keterangan gambar.
Eits tunggu, siapa yang sudah mengintip status whatsapp saya?


Setelah melakukan pembaharuan status, tunggu beberapa saat, lalu tekan tab status tersebut dan akan terlihat siapa saja yang melihatnya. Dan diatas ada pilihan untuk menghapus status maupun forward  juga.
Oh ya, status kita akan hilang jika sudah melewati 24 jam loh. Dan perlu diingat status kita akan terlihat oleh orang lain ketika pengaturan aplikasi memang terseting publik. Jika status kita tidak ingin dilihat orang lain, silahkan pergi ke pengaturan >> akun >> privasi >> pilih siapa yang melihat pembaruan status.
Selain itu, kita bisa melihat status teman-teman kita di whatsapp. Jika terlihat gambarnya, lalu geser kebawah ada tombol "balas". Seperti Instagram, kita bisa menanggapi status gambar mereka.
Mudah bukan!? Fitur ini bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan produk kita loh. Silahkan dicoba ๐Ÿ™‚

Lowongan Kerja TL dan SPG

Add Comment
Connected Indonesia
Membutuhkan TL & SPG untuk prodak Keju dan Biskut ternama di Dunia. Untuk area Makasar
Kualifikasi:
1. TL- Laki-laki/ Perempuan- Bisa mengendarai mobil- Memiliki SIM A- Pengalaman TL- Biasa Event di keramaian- Good looking

Salary Take home pay  3.5jt s/d 4.5jt

2. SPG
- Wanita
- Good looking
- Berpengalamam SPG
Salary Take Home Pay 2,7jt s/d 3,2jt

Apply CV ke
asti.hrd@connected.co.id
More info
081318459660

Android, “Robot Halus” Pendongkrak Pendapatan Google

Add Comment
Sampai hari ini Google berhasil meraup pendapatan miliaran dolar dari para pemasang iklan di seluruh dunia. Di masa mendatang, pendapatannya mungkin berlipat ganda atau berlipat tiga berkat dukungan dari robot halusnya, Android!
Oleh: Wim Permana, S.Kom

Android dan Robot-Robot Lain

Extreme Alarm Clock adalah salah satu contoh kecil dari ribuan kemungkinan manfaat yang bisa kita ambil dari Sistem Operasi Android yang tertanam di smartphone saya. Anda mungkin menduga, smartphone ini pasti harganya mahal layaknya Blackberry atau iPhone. Padahal sebaliknya. Ponsel cerdas yang saya maksud adalah Nexian tipe Journey A-891. Waktu itu harganyaRp 769.000! This is unbelievable. Jadul banget ๐Ÿ™‚
Saya menggunakan istilah unbelievable karena beberapa tahun lalu, sebelum Android lahir dan mewabah, yang disebut ponsel cerdas adalah sekelas Nokia N Series berbasis Symbian yang biasanya dibanderol Rp 3.000.000 sampai di atas Rp 5.000.000. Atau Blackberry dengan harga yang tidak jauh berbeda. Atau iPhone dengan iOS-nya yang biasanya harganya jauh lebih tinggi lagi. Selain harga, salah satu faktor penting pembeda smartphone dengan ponsel di bawahnya – biasa disebut feature phone, adalah dari sisi kelengkapan hardware dan software yang hampir menyerupai komputer atau laptop umumnya.
Dari sisi perangkat keras, kecepatan pemrosesan alias clock prosesor smartphone dianggap menyamai saudara tuanya di PC. Begitu pula dengan besaran internal memori dan media penyimpanannya. Untuk urusan perangkat lunak, smartphone juga memiliki arsitektur yang menyerupai PC pada umumnya. Yakni adanya sistem operasi yang menjadi landasan bagi aplikasi-aplikasi lain supaya bisa difungsikan di dalamnya. Dan di sisi inilah Android bertugas sebagai sistem operasi. Sesuatu yang disebut-sebut pembeda utama antara smartphone dan feature phone.
Dan itu pun masuk akal. Bayangkan saja iPhone dan Blackberry. Saat ini sudah banyak sekali vendor yang bisa membuat gadget serupa dengan spesifikasi hardware yang mampu menyamai, bahkan melebihi merk ponsel terkenal tersebut. Tapi tetap saja ponsel apapun tidak mungkin layak disebut iPhone atau Blackberry bila tidak menyertakan iOS atau Blackberry OS di dalamnya. Dan hal yang sama juga berlaku untuk ponsel berbasis Android.
Tapi Kenapa Smartphone Android Bisa Murah?
Tapi meskipun serupa, namun tetap ada satu hal yang membuat Android berbeda dari kebanyakan sistem operasi lainnya. Entah itu iOS, Blackberry OS, atau Windows Phone 7. Anda mungkin akan terkejut mendengar ini: Android adalah barang gratisan! Sttttt … Jangan beri tahu siapa-siapa, ya. Dengan kata lain, vendor-vendor ponsel seperti Samsung, Motorola, LG, Sony, HTC, atau bahkan Huawei, Xiomi, Mito bisa dengan nikmatnya membenamkan sistem operasi canggih itu ke dalam ponsel produksi masing-masing tanpa harus membayar sepeser pun biaya lisensi kepada Google atau perusahan yang tergabung dalam Open Handset Alliance – sebuah konsorsium yang terdiri atas 86 perusahaan yang turut mendukung pengembangan Android.
Itulah salah satu alasan utama kenapa harga ponsel-ponsel berbasis Android – yang sudah diakui kecanggihannya, bisa dilepas dengan harga agak sedikit "mencekam". Yakni sampai di bawah Rp 1.000.000. Jadi, ketika menjual ponsel berbasis Android, para vendor hanya perlu memikirkan biaya  pembelian hardware yang harus diganti para konsumennya. Tidak perlu lagi memusingkan biaya perangkat lunaknya. Untuk lebih mudahnya Anda bisa menganalogikan kasus ini dengan mencoloknya perbedaan harga antara laptop baru yang sudah terinstal sistem operasi Windows 7 dan laptop yang hanya terinstal Ubuntu atau tanpa sistem operasi sama sekali. Beda bukan?
Lalu Apa Untungnya Buat Google?
Sebagai perusahaan, tentu Google menginginkan keuntungan dari setiap produknya. Tidak terkecuali dari Android. Tapi pertanyaannya, bagaimana cara Google mengambil untung kalau Android saja bisa dipakai sebebas-bebasnya tanpa sesen pun? Ada dua cara. Pertama, dari semua iklan yang muncul di aplikasi-aplikasi Android milik penggunanya. Dan kedua, dari sistem bagi hasil  untuk setiap terjualnya aplikasi berbayar di Google Play (dahulu dikenal dengan sebutan Android Market). Dan keuntungan dari keduanya pun tampaknya cukup prospektif dan menggiurkan.
Data sampai Februari 2016 menunjukkan ada sekitar 350 juta unit ponsel berbasis Android di seluruh dunia. Bila Anda adalah pemasang iklan. Coba bayangkan, surat kabar, majalah atau stasiun televisi seperti apa yang bisa menyamai "tingkat keterbacaan" Android milik Google. Kalau Anda normal, Anda tidak dilarang untuk sedikit menggeleng-gelengkan kepala sejenak. Kabar baik berikutnya, menurut web statista.com saat ini sudah ada sekitar 2.600.000 aplikasi di Google Play (tempat untuk mengunduh aplikasi Android milik Google) dengan frekuensi download mencapai 10 miliar kali.
Dari ekosistem di Google Play, yang diprediksi akan terus tumbuh pesat di tahun-tahun mendatang, Google meraih pendapatan dari dua tahapan. Pendapatan pertama masuk ketika ada developer yang mendaftarkan aplikasinya di sana. Sedangkan pendapatan kedua datang setiap kali ada aplikasi berbayar di sana yang terjual. Sekian persen keuntungan untuk Google, sementara selebihnya akan dinikmati developer aplikasi itu sendiri. What a wonderful business! (PM)

Cara Mengatasi Stagnasi Dalam Bisnis

Add Comment
PengusahaMuslim.com – Kondisi perusahaan yang mengalami keadaan stagnasi dapat membuat sebuah bisnis menjadi tidak berkembang. Hal ini bisa terjadi, akibat kreativitas dan inovasi yang tidak berkembang mengakibatkan keadaan perusahaan mengalami stagnan.
Masalah stagnasi dalam bisnis adalah salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pengusaha. Kondisi seperti ini jika tidak segera diperbaiki, maka lama-kelamaan akan menganggu kesehatan bisnis anda. Bisnis Anda akan tertinggal jauh, kompetitor yang kian melesat, dan konsumen yang beralih pada kompetitor. Agar hal ini tidak terjadi, berikut tipsnya:
1. Evaluasi
Mereview atau mengevaluasi semua kegiatan usaha dalam satu bulan terakhir. Apakah dalam periode tersebut ada kesalahan kebijakan yang anda ambil, apakah ada bagian dalam bisnis yang tidak sehat, dan apakah semua proses sudah dijalankan sesuai standar operasional.
2. Identifikasi masalah
Dari hasil evaluasi yang sudah dilakukan, maka anda dapat menemukan pokok masalah yang terjadi pada bisnis anda. Identifikasikan critical point yang menjadi penyebab kemandekan, apakah dari faktor internal atau eksternal. Dengan mengidentifikasi masalah ini maka anda dapat menentukan langkah yang harus diambil untuk mengatasinya.
3. Review strategi pemasaran
Lihat kembali strategi pemasaran Anda, apakah masih relevan dengan kondisi saat ini atau harus dirombak. Perkembangan bisnis, terlebih pemasaran produk juga dipengaruhi oleh ketepatan strategi pemasaran yang Anda buat. Jika diperlukan Anda bisa membuat survei mengenai perubahan perilaku konsumen agar anda bisa membuat strategi yang tepat sasaran.
4. Kaji ulang system
Anda harus mengkaji semua sistem yang diterapkan dalam bisnis anda. Apakah sistem yang diterapkan masih applicable untuk bisnis anda? Apakah sistem tersebut mendukung adanya inovasi? Bagaimana efektivitas dan efisiensi sistem tersebut? Dengan terus menggali pertanyaan-pertenyaan demikian, maka anda dapat menemukan jawaban-jawaban yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya kemandekan.
5. Merekrut orang yang tepat
Jika kondisi bisnis anda sudah parah atau akut di mana tidak ada perkembangan sama sekali dan justru mengalami kemunduran, maka jika tidak segera mendapatkan solusi akan mengancam kelangsungan bisnis anda. Merekrut orang yang tepat dalam artian memiliki pengalaman dalam meng-handle bisnis yang stagnan dan memiliki visi serta ide yang baru dan inovatif akan sangat membantu meningkatkan kinerja bisnis anda.
6. Tindakan pencegahan
Melakukan tindakan pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati. Berdasarkan hasil evaluasi yang anda lakukan dan critical point yang ditemukan, maka anda dapat menentukan tindakan pencegahan untuk masing-masing poin memiliki potensi terjadi masalah.
Menghadapi keadaan ini Anda perlu berpikir untuk menemukan terobosan baru agar bisnis Anda tidak tertinggal. Semoga bermanfaat.
[Sumber: Finance Detik]

Barokah di Pagi Hari

Add Comment
Banyak peluang besar disia-siakan kalau kita suka tidur pagi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa agar Allah memberkahi umatnya di pagi hari. Karena itu, kita perlu tahu rahasia untuk mendapatkan berkah waktu pagi. Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Di Tanah Arab, kami sering memperhatikan jarang toko yang buka pada pagi hari, sekitar jam 7 pagi. Karena kebanyakan toko di sana buka sampai larut malam. Padahal sebagian warga ada yang mencari kebutuhan di pagi hari. Semisal sarapan, sayuran dan lauk lainnya. Yang perlu diingat, berdagang di pagi hari sungguh penuh barokah (berkah) sebagaimana dibuktikan dalam kisah sahabat mulia berikut.
Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya." Apabila mengirim peleton pasukan, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimnya di waktu pagi. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya pada pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan dia adalah Shokhr bin Wada'ah.—HR Abu Daud No. 2606, Tirmidzi No. 1212, shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani

Empat Pelajaran Penting
Beberapa pelajaran penting bisa kita petik dari sepenggal kisah Shokr.
Pertama, perhatian pada ajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan menuai berkah.
Lihatlah bagaimana Shokr Al Ghomidi Radhiyallahu 'anhu, beliau bisa meraup berkah hanya karena mengamalkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau tidak melihat dulu, apakah sabda beliau memang benar sudah terbukti, mujarab, atau menunggu penelitian ahli akan hal itu. Sahabat mulia tersebut hanya bersikap 'sami'na wa atho'na', dengar dan langsung taat. Lain halnya dengan kita, ketika mendengar hadits Nabi Shallalahu 'alaihi wa sallam beribu pertanyaan siap dilontarkan. Mengesankan sikap tidak percaya. Ah, masak iya? Apa sudah sesuai penelitian dokter?
Senasib dengan sikap semacam ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Jika seekor lalat jatuh di tempat minum salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah seluruh bagian lalat tersebut. Lalu buanglah lalat tadi. Karena di salah satu sayapnya terdapat penawar dan sayap lainnya adalah racun."—HR Bukhari No. 5872
Banyak sikap skeptis yang dilontarkan, tujuannya untuk mengingkari hadist yang kurang logis. Orang yang benar beriman pada Allah dan Rasul-Nya, tentu merespon baik dan mentaati. Ditambah lagi penelitian terkini dari pakar menunjukkan benarnya sabda beliau ini. Dan Rasul tentu saja sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."—QS An Najm: 3-4
Kedua, waktu pagi adalah waktu penuh barokah.
Sampai-sampai para ulama menghabiskan waktu pagi tersebut untuk berdzikir dan beramal sholeh. Jika tidak berdzikir, maka aktivitas di hari itu bisa jadi kurang bersemangat. Sebagaimana hal ini dibuktikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.—Lihat Al Wabilush Shoyyib karya Ibnul Qayyim
Ketiga, barokah waktu pagi bisa dimanfaatkan dengan berpagi-pagi mencari rezeki.
Anda bisa perhatikan apa yang dibuktikan oleh Shokr bin Wada'ah. Beliau jadi kaya raya karena benar-benar memanfaatkan waktu tersebut. Anda kurang yakin? Buktikan dulu dengan dasar mengamalkan hadist ini. Ingat, bukan sebatas untuk coba-coba.
Keempat, hadits ini juga menunjukkan mustajabnya doa Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, jadilah waktu pagi adalah waktu penuh berkah.
Dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh At Tirmidzi (3: 305) disebutkan bahwa karena perhatian Shokr Al Ghomidi pada ajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memanfaatkan waktu pagi dan mustajabnya doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi orang yang memanfaatkan waktu pagi, akhirnya Shokr—seorang pedagang—menjadi kaya raya.

Tips
Cara untuk meraup berkah di pagi hari adalah tidak begadang hingga larut malam. Jika kita memiliki toko atau warung, sebaiknya tutup lebih awal, sehingga kita bisa benar-benar memanfaatkan waktu pagi. Apalagi jika barang yang ditawarkan oleh toko atau warung tersebut dibutuhkan oleh banyak orang di pagi hari.
Selamat mencoba, dan dapatkan bonusnya.
Semoga Allah senantiasa memberkahi setiap usaha kita. Wallahu waliyyut taufiq.
Pull Quote:
  1. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa, "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya."
  2. Sahabat Sokhr yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya.

Zakat untuk Penjualan Rumah & Tanah

Add Comment
Seseorang menjual rumah untuk melunasi hutang riba, apakah harus dikeluarkan zakatnya?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Benda yang menjadi milik pribadi, selain emas, perak dan mata uang, tidak ada kewajiban zakat. Meskipun meskipun benda itu mahal. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu; Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
ู„َูŠْุณَ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِ ูِู‰ ูَุฑَุณِู‡ِ ูˆَุบُู„ุงَู…ِู‡ِ ุตَุฏَู‚َุฉٌ
"Tidak ada kewajiban zakat bagi seorang muslim, untuk kudanya dan budaknya." (HR. Ahmad 7295 dan Bukhari 1463)
Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,
"Lafal 'kudanya dan budaknya'. Kata 'kuda dan budak' dinisbahkan kepada seseorang, secara khusus. Artinya, benda tersebut digunakan untuk melayani kepentingan pribadi. Dia gunakan dan dia manfaatkan, sebagaimana pakaian, rumah yang dia tinggali, atau mobil yang dia gunakan, meskipun untuk disewakan. Semua benda ini, tidak ada kewajiban zakatnya, karena orang menggunakan benda ini untuk dirinya dan tidak diperdagangkan; dia membeli hari ini, kemudian dia jual besok …." (Asy-Syarhul Mumti', 6/142)
Tentu saja, penyebutan kuda dan budak dalam hadis ini tidak bersifat pembatasan. Tapi untuk semua benda yang menjadi kebutuhan pribadi, meskipun benda itu mahal. Di masa silam, budak dan kuda adalah dua contoh benda mahal yang ada di masa itu..
Kecuali, jika benda mahal ini dijadikan sebagai barang dagangan. Karena ada zakat untuk barang dagangan.
Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan,
ุฅِู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูƒَุงู†َ ูŠَุฃْู…ُุฑُู†َุง ุฃَู†ْ ู†ُุฎْุฑِุฌَ ุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉَ ู…ِู†َ ุงู„َّุฐِู‰ ู†ُุนِุฏُّ ู„ِู„ْุจَูŠْุนِ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk membayar zakat terhadap barang yang hendak kami perdagangkan." (HR. Abu Daud 1564 dan didhaifkan al-Albani)

Kapan sebuah barang terhitung sebagai barang dagangan?

Tidak semua benda yang dijual bisa distatuskan sebagai barang perniagaan.
Ada dua syarat sehingga suatu benda bisa disebut sebagai barang perniagaan, sehingga berlaku aturan zakat perniagaan.
[1] Adanya niat. Artinya ketika memiliki barang tersebut, diniatkan untuk dijual kembali atau diperdagangkan, bukan untuk dipakai.
[2] Adanya aktivitas penjualan terhadap barang tersebut, seperti melakukan penawaran untuk dijual.
[3] tujuan dijual karena untuk berdagang, bukan karena bosan atau karena ingin mendapat ganti yang lebih baik.
Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,
ู„ูˆ ูƒุงู† ุนู†ุฏ ุฅู†ุณุงู† ุนู‚ุงุฑุงุช ู„ุง ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ุชุฌุงุฑุฉ ุจู‡ุง، ูˆู„ูƒู† ู„ูˆ ุฃุนุทูŠ ุซู…ู†ุง ูƒุซูŠุฑุง ุจุงุนู‡ุง ูุฅู†ู‡ุง ู„ุง ุชูƒูˆู† ุนุฑูˆุถ ุชุฌุงุฑุฉ؛ ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠู†ูˆู‡ุง ู„ู„ุชุฌุงุฑุฉ
Jika ada orang memiliki beberapa tanah, tidak untuk diperjual-belikan, namun dia punya keinginan, jika nanti ada yang menawar dengan harga tinggi, akan dia jual, maka tanah ini bukan termasuk barang dagangan. Karena dia tidak meniatkan untuk diperdagangkan.
Beliau juga mengatakan,
ูุฅู† ูƒุงู† ุนู†ุฏู‡ ุณูŠุงุฑุฉ ูŠุณุชุนู…ู„ู‡ุง ، ุซู… ุจุฏุง ู„ู‡ ุฃู† ูŠุจูŠุนู‡ุง ูู„ุง ุชูƒูˆู† ู„ู„ุชุฌุงุฑุฉ ؛ ู„ุฃู† ุจูŠุนู‡ ู‡ู†ุง ู„ูŠุณ ู„ู„ุชุฌุงุฑุฉ ، ูˆู„ูƒู† ู„ุฑุบุจุชู‡ ุนู†ู‡ุง ، ูˆู…ุซู„ู‡ : ู„ูˆ ูƒุงู† ุนู†ุฏู‡ ุฃุฑุถ ุงุดุชุฑุงู‡ุง ู„ู„ุจู†ุงุก ุนู„ูŠู‡ุง ، ุซู… ุจุฏุง ู„ู‡ ุฃู† ูŠุจูŠุนู‡ุง ูˆูŠุดุชุฑูŠ ุณูˆุงู‡ุง ، ูˆุนุฑุถู‡ุง ู„ู„ุจูŠุน ูุฅู†ู‡ุง ู„ุง ุชูƒูˆู† ู„ู„ุชุฌุงุฑุฉ ؛ ู„ุฃู† ู†ูŠุฉ ุงู„ุจูŠุน ู‡ู†ุง ู„ูŠุณุช ู„ู„ุชูƒุณุจ ุจู„ ู„ุฑุบุจุชู‡ ุนู†ู‡ุง
Jika ada orang memiliki mobil yang dia pakai, kemudian ingin dia jual, maka tidak termasuk barang dagangan, karena menjual di sini bukan untuk berdagang, tapi karena bosan. Termasuk juga, ketika ada orang memiliki tanah yang dia beli untuk dibangun rumah, kemudian dia ingin menjual tanah itu, untuk membeli tanah lainnya, lalu dia tawarkan, maka bukan termasuk barang dagangan. Karena niat dia menjual barang itu bukan untuk usaha, tapi karena bosan. (as-Syarh al-Mumthi', 6/142).
Karena itu, menjual rumah dengan niat untuk menutupi utang, bukan termasuk barang dagangan, sehingga tidak masuk perhitungan zakat barang dagangan.
Jika rumah terjual?
Setelah rumah terjual, uang hasil penjualan termasuk yang wajib dizakati. Bagaimana perhitungan haulnya? Yang lebih tepat, karena uang hasil penjualan rumah ini perhitungan haulnya disendirikan, dan tidak mengikuti haul harta yang lain, yang sudah disimpan. Karena sumbernya berbeda.
Sebagai ilustrasi,
Di awal bulan Jumadil Akhirah 1438, Paijo berhasil menjual tanah miliknya senilai 300jt. Paijo juga telah memiliki tabungan senilai 60jt, dan sudah disimpan sejak Muharram 1438.
Berdasarkan data di atas, uang 60jt sudah tersimpan selama 6 bulan, dan harus dizakati 6 bulan lagi, yaitu di Muharram 1439. Sementara uang 300jt baru diperoleh Paijo. Kapan uang 300jt ini dizakati?
Yang lebih tepat tidak mengikuti perhitungan haul yang 60jt, tapi perhitungan haulnya disendirikan. Sehingga dia dizakati pada Jumadil Akhirah 1439.
Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Mengenal Zakat untuk al-Mal al-Mustafad Read
Allahu a'lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Jual Beli Harus Ada Saksi?

Add Comment
Apakah dalam jual beli harus ada saksi?
Jika tanpa saksi, jaul belinya sah?

Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Idealnya dalam jual beli dihadirkan saksi… Allah ta'ala berfirman,
ูˆَุฃَุดْู‡ِุฏُูˆุง ุฅِุฐَุง ุชَุจَุงูŠَุนْุชُู…ْ
Hadirkanlah saksi apabila kalian melakukan jual beli. (QS. al-Baqarah: 282).
Hanya saja para ulama sepakat bahwa perintah dalam ayat ini tidak sampai derajat wajib, tapi perintah anjuran. Karena perintah dalam ayat ini sifatnya bimbingan (al-Irsyad), agar ketika terjadi sengketa, lebih mudah untuk diselesaikan. Ketika menjelaskan ayat ini, al-Allamah Sulaiman al-Jamal – ulama syafiiyah – mengatakan,
ูˆุตุฑู ุงู„ุฃู…ุฑ ููŠ ุงู„ุขูŠุฉ ุนู† ุงู„ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฅุฌู…ุงุน ูˆู‡ูˆ ุฃู…ุฑ ุฅุฑุดุงุฏ ู„ุง ุซูˆุงุจ ููŠู‡ ุฅู„ุง ู„ู…ู† ู‚ุตุฏ ุจู‡ ุงู„ุงู…ุชุซุงู„
Ulama sepakat, perintah dalam ayat tidak dipahami sebagai perintah wajib, namun dipahami sebagai perintah yang berisi arahan, tidak ada nilai pahalanya kecuali bagi orang yang melakukanya dengan maksud untuk mengamalkan ayat. (Hasyiyah al-Jamal 'ala Syarhil Minhaj, 10/398).
Diantara dalil bahwa jual beli tidak harus ada saksi adalah peristiwa jual beli yang pernah dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang Badui.
Diceritakan oleh Khuzaimah bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu,
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli seekor kuda dari orang badui. Setelah deal harga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Badui ini untuk mengikuti beliau, untuk beliau serahkan pembayarannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan cepat, tapi badui ini menyusul beliau dengan lambat. Di sepanjang jalan, banyak orang yang menawar kuda yang dibawa si badui, dan mereka tidak tahu kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membelinya.
Karena merasa tertarik dengan tawaran orang lain yang lebih tinggi harganya, Badui ini memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
"Hai… apakah kamu jadi membeli kudaku ini? kalau tidak, saya mau jual"
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Bukankah saya tadi telah membelinya darimu?"
Si Badui mengingkari, "Tidak, demi Allah.. aku belum menjualnya ke kamu."
"Sebaliknya, kamu telah menjualnya kepadalu." Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu si Badui itu meminta saksi.
Tiba-tiba datang Khuzaimah bin Tsabit dan mengatakan, "Saya bersaksi anda telah membelinya."
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanya ke Khuzaimah, "Dengan cara apa kamu bisa jadi saksi?"
Jawab Khuzaimah, 'Dengan pembenaran kepada Anda, Ya Rasulullah…'
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan persaksian Khuzaimah setara dengan persaksian dua orang. (HR. Nasai 4664, Abu Daud 3609 dan dishahihkan al-Albani).
Khuzaimah tidak hadir ketika transaksi yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Badui.. karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terheran ketika Khuzaimah mengaku jadi saksi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membelinya. Namun ketika Khuzaimah menjadi saksi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya, dengan alasan, jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibenarkan oleh penghuni langit, sudah selayaknya beliau dibenarkan penghuni bumi.
Yang menjadi acuan kita dalam hadis ini adalah bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertransaksi, tidak ada saksi. Ketika menjelaskan hadis ini, Imam as-Syafii mengatakan,
ูู„ูˆ ูƒุงู† ุญุชู…ุง ู„ู… ูŠุจุงูŠุน ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจู„ุง ุจูŠู†ุฉ ูˆู‚ุฏ ุญูุธุช ุนู† ุนุฏุฉ ู„ู‚ูŠุชู‡ู… ู…ุซู„ ู…ุนู†ู‰ ู‚ูˆู„ูŠ ู…ู† ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุนุตูŠ ู…ู† ุชุฑูƒ ุงู„ุฅุดู‡ุงุฏ ูˆุฃู† ุงู„ุจูŠุน ู„ุงุฒู…
Andai adanya saksi itu wajib, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan melakukan jual beli tanpa saksi. Dan saya telah mendengar dari beberapa ulama yang aku jumpai, yang menyampaikan seperti yang aku sampaikan, bahwa orang yang tidak menghadirkan saksi saat jual beli, tidak berdosa dan jual belinya sah. (al-Umm, 3/88).
Allahu a'lam.

Innovation War: Yang Terluka dan Gugur di Medan Laga

Add Comment
Innovation War: Yang Terluka dan Gugur di Medan Laga
Posted: 02 Mar 2017 02:10 AM PST
Artikel ini pernah terbit di Majalah Cetak Pengusaha Muslim
Teruslah berinovasi. Apalagi bisnis Anda melibatkan teknologi yang bergerak cepat. Tanpa kepekaan membaca tren pasar, tim pengembangan produk yang unggul dan budaya inovasi yang mengakar, organisasi bisnis menjadi tak berdaya di tengah persaingan.
Hidup terasa makin nyaman, dan untuk itu kita layak memberikan kecupan hangat kepada para inovator yang telah mempersembahkan aneka produk inovatif di hadapan kita.
Dulu, kita mungkin tak pernah membayangkan betapa kita bisa melayangkan sederet kalimat romantis pada kekasih kita melalui medium sms (short message service). Atau, juga melakukan chatting dengan kawan di seberang samudera melalui fasilitas Internet. Karena itu, siapa tahu 25 tahun lagi kita bisa menikmati mobil terbang, melayang di atas jalanan kota Jakarta sambil menikmati pendaran emas di menara Monas.
Ya, kini setiap hari rasanya kita senantiasa disuguhi aneka produk yang menawarkan sejumput inovasi demi sebuah kenikmatan hidup. Mulai dari produk kamera digital, mobile banking, media televisi di atas screen telepon genggam, hingga produk celana-dalam-sekali-pakai-kemudian-dibuang.
Kisah inovasi yang ditorehkan dengan tinta emas mungkin akan dinikmati oleh mereka yang memang senantiasa dapat meracik beragam produk baru yang inovatif. Namun bagi sebagian yang lain, perang inovasi ibarat padang Kurusetra: tempat mereka yang terpanah penuh luka akhirnya gugur di medan laga.
Dunia tak kekurangan korban yang terpelanting dalam laga inovasi yang brutal itu. Kita di sini hendak mencatat tiga contoh di antaranya.
Yang pertama, kamera digital. Dulu, sebelum kamera digital menjadi sesuatu yang lumrah, kita mengenal produk bermerk Kodak sebagai "sang dewa". Setiap kali Anda pergi liburan bersama teman atau kerabat, pasti kotak film bermerk Kodak itu nyangkut di tas Anda.
Namun perkembangan teknologi kamera digital telah menghempaskan Kodak dalam puing sejarah yang usang. Kodak tidak cepat merespon perubahan yang mematikan, dan kini mereka tinggal menunggu peti mati untuk beranjak tidur selamanya.
Contoh kedua, telepon rumah. Dulu, bisnis ini menjadi sumber mesin uang bagi Telkom, sang penguasanya. Namun kini, ketika handphone telah ada di mana-mana, frekuensi penggunaan telepon rumah menurun drastis—di rumah pun banyak orang lebih memilih memakai handphone daripada telepon rumah yang "jadul" itu.
Dan inilah yang terjadi: penurunan pendapatan Telkom dari bisnis telepon rumah lebih cepat daripada yang mereka prediksi. Bisnis telepon rumah kemudian menjelma menjadi bisnis yang stagnan, dan bagian dari sejarah masa silam.
Contoh lain, perang inovasi di bisnis sepeda motor. Dulu, produsen motor  Suzuki selalu menempel ketat sang penguasa pasar: Honda, bersama rival terdekatnya: Yamaha. Namun ketika menggebrak dengan produk inovatif bernama skutik Mio, Yamaha, yang pernah mensponsori Valentino Rossi di ajang balap sepeda motor MotoGP, terbang melesat bersama Honda—yang terus terengah-engah menahan nafas agar tak tersalip.
Yang kemudian tertinggal dalam sembilu kepedihan adalah Suzuki. Gebrakan inovasi Yamaha, yang segera disusul oleh Honda, telah membuat Suzuki terpelanting dan terkaing-kaing. Kita sekarang menyaksikan banyak dealer motor Suzuki yang tutup, dan pangsa pasar mereka terus menurun. Kita tidak tahu sampai kapan Suzuki akan terus mengalami penderitaan yang menyakitkan ini.
Tiga kasus di atas telah menyodorkan eksemplar yang begitu jelas: tanpa spirit inovasi, sebuah produsen bisa tergolek kehilangan raga. Proses ini mungkin menjadi kian dramatis dalam bisnis yang melibatkan teknologi yang bergerak dengan cepat—seperti tiga kasus di atas.
Ketajaman mengendus tren pasar, tim pengembangan produk (product development) yang unggul serta budaya inovasi yang mengakar, adalah sejumlah elemen dasar yang perlu dibentangkan jika sebuah organisasi ingin terus bisa bertahan dalam laga inovasi yang terus berjalan tanpa henti.
Tanpa bekal itu semua, sebuah organisasi bisa terjebak dan sekarat. Bagi mereka, perang inovasi bisa menjelma menjadi drama yang menyakitkan, dan membuat mereka terkubur lenyap dalam kesunyian.
Tentang Penulis Kolom Ini
Yodhia Antariksa adalah blogger yang mengelola blog http://strategimanajemen.net/. Ia founder dan chief executive officer (CEO) PT. Manajemen Kinerja Utama, sebuah firma konsultan yang bergerak dalam bidang corporate performance management.
Yodhia terlibat dalam pengembangan sistem manajemen kinerja untuk beragam klien, baik untuk perusahaan swasta nasional, BUMN, multi national companies ataupun government organizations.
Yodhia meraih master of science in HR management di Texas A&M University (USA) atas beasiswa dari Fulbright Scholarship. Pendidikan S-1 di bidang manajemen diselesaikannya di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Mata Uang Menurut Islam

Add Comment
Mata Uang Menurut Islam
Posted: 28 Feb 2017 08:14 PM PST
Majalah Cetak Penguhas Muslim Indonesia Edisi Mei 2012
Beberapa kalangan mewajibkan kembali ke Dinar emas dan Dirham perak. Mereka menganggap rupiah tidak memenuhi kriteria mata uang syar'i. Bagaimana sejatinya kriteria mata uang dalam Islam?
Ditulis oleh: Ustad Dr. Erwandi Tarmizi, MA
Sifat emas dan perak yang nilainya lebih permanen sebagai mata uang dari masa ke masa disebabkan nilainya yang bertumpu pada zatnya, dan bukan pada pengakuan kelompok orang atau negara. Hal ini membuat mata uang emas dan perak stabil nilainya, kapan dan di mana pun, hampir tidak pernah mengalami perubahan. Sifat ini cocok untuk kriteria mata uang sebagai ukuran harga barang dan jasa, karena standar ukuran haruslah stabil dan tidak berubah-ubah (fluktuatif). (Al-Mutrik, Ar Riba wal muamalat al mashrafiyyah, hal. 106)
Oleh karena itu sebagian fuqaha yang bermazhab Syafi’i menyatakan, ‘illat  riba mata uang emas dan perak berada pada zatnya yang mereka namakan jawhariyah ats-tsamaniyah. Konsekuensinya, di antara persyaratan sebuah mata uang adalah materinya berasal dari emas atau perak. Karena itu, mata uang yang terbuat dari benda atau logam lain tidak dapat dianggap sebagai mata uang (menurut syafi'iyah) sekalipun digunakan orang-orang sebagai alat tukar. Uang selain emas dan perak tidak terkena zakat emas dan perak dan tidak terkena riba, boleh ditukar tidak tunai dan berlebih nominalnya.
An-Nawawi berkata, “Illat riba pada mata uang emas dan perak adalah jawhariyah ats-tsamaniyah (nilai zat alat tukar). Termasuk dalam hal ini emas/perak yang masih mentah, emas/perak yang telah dicetak, emas/perak perhiasan, dan bejana emas/perak. Dan pendapat yang terkuat dalam mazhab (Syafi’i) bahwa riba tidak berlaku pada uang yang terbuat dari tembaga, besi, timah dan logam lainnya.” (Raudhah At-thalibin, 3/380)
Namun dalil yang menjadi pegangan pendapat tersebut tidak kuat, karena riba diharamkan dengan alasan mengandung kezaliman terhadap manusia dan kezaliman sebagaimana terdapat pada mata uang emas dan perak juga terdapat pada mata uang yang terbuat dari materi lain. Bila seseorang meminjam uang yang terbuat dari kertas Rp 10 juta dan diharuskan membayar Rp 11 juta, dalam kasus ini, peminjam juga terzalimi Rp 1 juta. Sama halnya dengan dia meminjam Dinar emas 10 keping dan harus mengembalikan 11 keping.
Oleh karena itu, sebagian ulama mazhab Maliki dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, bahwa illat riba emas dan perak adalah Muthlaq Ats-Tsamaniyyah (status sebagai alat tukar). Maka, apa pun bendanya yang digunakan manusia sebagai alat tukar barang dan jasa, dapat dianggap sebagai uang. Uang selain emas dan perak, juga berlaku ketentuan zakat emas dan perak serta tidak boleh ditukar sejenis dengan nominal yang berbeda dan harus ditukar tunai, sebagaimana aturan yang berlaku untuk emas dan perak.
Diriwayatkan dari Umar bin Khattab, ia berkata, “Aku berkeingingan untuk membuat uang dari kulit unta”. Lalu dikatakan kepadanya, “Kalau begitu, tidak akan ada lagi unta! Lalu Umar mengurungkan niatnya.” (Tafsir Shan’aniy, 3/93)
Imam Malik berkata, “Andaikan orang-orang membuat uang dari kulit dan dijadikan alat tukar oleh mereka, maka saya melarang uang kulit itu ditukar dengan emas dan perak dengan cara tidak tunai.” (Al-Mudawwanah Al-Kubra, 3/90).
Ibnu Hazm mengatakan, “Segala sesuatu yang boleh diperjual-belikan dapat digunakan sebagai alat tukar, dan tidak terdapat satu nash pun yang menyatakan bahwa uang haruslah terbuat dari emas dan perak.” (Al-Muhalla, 8/477)
Ibnu Taimiyah juga berkata, “Terkait Dinar dan Dirham, tidak ada batasan bahwa harus yang dicetak dan tidak ada juga batasan syar’i. Karena itu, material uang merujuk kepada ‘urf (kesepakatan masyarakat) dan kesepakatan para penggunanya. Sebagian ulama berkata, “Uang adalah suatu benda yang disepakati oleh para penggunanya sebagai (alat tukar), sekalipun terbuat dari sepotong batu atau kayu.” (Majmu’ Fatawa, 19/251).
Pendapat kedua dalam hal ini lebih kuat, karena tidak ada satu pun nash yang menyatakan bahwa uang harus berasal dari emas dan perak. Bila tidak ada nash dalam kasus ini maka dikembalikan kepada ‘urf atau kesepakatan yang berlaku. Sementara saat ini, uang yang berlaku adalah uang kartal, karena itu, statusnya dapat disamakan dengan uang emas dan perak. Pendapat kedua ini didukung para ulama kontemporer dalam keputusan Muktamar ke-3 Organisasi Kerjasama Islam yang diselenggarakan di Amman, Yordania pada 1986.
Keputusan No. 21 (9/3), berbunyi, “Majlis Lembaga Fikih Islam menetapkan bahwa uang kartal mempunyai kriteria tsamaniyyah (harga/nilai). Hukumnya sama dengan hukum-hukum yang telah dijelaskan syariat tentang emas dan perak. Riba dapat terjadi pada uang kartal. Uang kartal terkena zakat dan dapat dijadikan modal dalam akad salam. serta seluruh hukum-hukum yang telah ditentukan.” (Journal Islamic Fiqh Council edisi III, jilid III, hal. 1.650) (PM)
Pull-Quote
Dinar Dirham cenderung stabil, karena nilainya bertumpu pada zatnya, dan bukan pengakuan masyarakat.
Ulama berbeda pendapat tentang illat riba pada emas dan perak:
  1. Illatnya adalah zatnya (jawhariyah ats-tsamaniyah). Karena itu, tidak berlaku riba untuk benda yang zatnya selain emas dan perak.
  2. Illat riba adalah status sebagai alat tukar (Muthlaq Ats-Tsamaniyyah), karena itu, riba berlaku untuk semua alat tukar.
Mata uang boleh berasal dari bahan selain emas dan perak, karena:
  1. Riwayat bahwa Umar Umar bin Khattab hendak membuat mata uang dari kulit unta.
  2. Segala sesuatu yang bisa diperjual-belikan dapat dijadikan sebagai alat tukar.
  3. Syariat tidak menentukan bahwa Dinar Dirham harus dicetak sebagai mata uang
  4. Material mata uang dikembalikan kepada urf yang berlaku di masyarakat.